Minggu, 07 Desember 2014

Diabetes Melitus Juvenilis

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang menyebabkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sebagai akibat kekurangan insulin yang efektif.
Diabetes melitus juvenilis ialah diabetes melitus yang bermanifestasi sebelum umur 15 tahun, oleh karena itu ada yang lebih senang memakai istilah Juvenile onset Diabetes.

Angka kejadian
Diabetes melitus juvenilis masih jarang ditemukan diantara penduduk pribumi Indonesia. Di Amerika Serikat ditemukan lebih kurang 5% diantara semua penderita Diabetes melitus ( diperkirakan lebih kurang 3 juta penderita ) di bawah 15 tahun.

Penyebab
Diabetes melitus juvenilis merupakan suatu penyakit keturunan yang diturunkan secara resesif. Kadang - kadang gejala yang mirip diabetes melitus juga ditemukan pada :
a. Growth hormon yang berlebihan
b. Sindrom Cushing
c. Hipertiroidi
d. Feokromositoma
e. Pengobatan kortikosteroid
f. Makanan gula yang berlebihan
g. Kadang - kadang pada penyakit fibrosis kistik dari pankreas

Patogenesis
Sebagai akibat kekurangan insulin atau kurang efektifnya insulin, sehingga terjadi :
a. Gangguan penyerapan glukosa melalui dinding sel dan jaringan serta gangguan pemakaian glukosa di dalam sel
b. Gangguan pembentukan glikogen dalam hati dan otot - otot
c. Meningkatkan glikogenolisis, karena gangguan ini terjadi hiperglikemia dan bila ambang ginjal dilampaui timbulah glikosuria. Ini akan menyebabkan bertambahnya diuresis ( poliuria ). Kehilangan cairan menimbulkan hemokonsentrasi dan dehidrasi. Penghancuran jaringan menyebabkan kehilangan keseimbangan elektrolit. Protein dan lemak akan dioksidasi sangat cepat dan banyak. Pemecahan lemak akan menghasilkan banyak keton sehingga akan timbul ketonuria dan asifosis. Timbulnya asidosis juga disebabkan oleh dehidrasi dan gangguan faal ginjal. Akhirnya akan terjadi koma diabetikum yang bisa menyebabkan kematian.
Di dalam pankreas secara histologis ditemukan kerusakan pulau - pulau Langerhans, yang biasanya mencapai lebih dari 90%. Arteriosklerosis dan kelainan degeneratif lainnya akan timbul setelah jangka waktu yang panjang, yaitu sesudah menderita penyakit lebih kurang 15 tahun.
Pembagian ( klasifikasi ) diabetes melitus ( American Diabetes Association ).
1. Diabetes melitus nyata :
Gejala diabetes melitus jelas
2. Diabetes melitus kimiawi atau laten :
Tidak ada gejala diabetes melitus, kadar gula darah tampak normal, tetapi pasca prandial tampak kenaikan GTT ( Glucosa Tolerance Test ) seperti pada diabetes.
3. Tersangka diabetes melitus :
Terdapat intolerans terhadap karbohidrat pada keadaan tertentu seperti trauma, infeksi, pemakaian obat - obatan ( kortikosteroid ), stres dan sebagainya. Pada keadaan ini perlu dipikirkan kemungkinan diabetes melitus terutama bila didalam keluarga ada penderita diabetes melitus.
4. Prediabetes :
Istilah ini digunakan untuk masa sebelum timbulnya diabetes melitus yang nyata.

Gejala klinis diabetes melitus nyata
Gejala pada anak hampir sama seperti pada orang dewasa. Perbedaannya ialah bahwa permulaan lebih cepat dan pada umumnya anak kurus. Biasanya keluhan utama ialah anak bertambah kurus atau tidak bertsmbah gemuk, sedang makan banyak, selalu haus dan banyak kencing. Pada anak yang tadinya tidak ngompol, tiba - tiba mengompol lagi. Kulit teraba agak kering, sering gatal ( pruritus ) dan kadang - kadang ada hipertrikosis. Sering terdapat infeksi kulit.
Kalau keadaan menjadi lebih berat, anak bisa jatuh dalam keadaan koma ( koma diabetikum ) dengan gejala berupa kesadaran menurun, kulit kering, pipi kemerahan, bibir merah, nafas berbau aseton, pernafasan cepat, mual dan muntah, nyeri perut dan kadang - kadang nyeri seluruh badan, Hiperpnea bisa menjadi pernafan kussmaul, nadi cepat dan lemah, mata cekung, suhu dan tekanan darah rendah.

Pemeriksaan laboratorium
1. Glikosuria :
Diketahui dari uji reduksi yang dilakukan dengan bermacam - macam reagensia seperti Benedict, clinitest dsb.
2. Hiperglikemia :
a. Pemeriksaan kadar gula darah puasa dan pascaprandial. Normal puasa ( Folin_W ) : 70 - 100mg%
b. GTT
3. Ketonuria
4. Kolesterol dapat meningkat
5. Gangguan keseimbangan elektrolit, paCO2 menurun, pH merendah.

Komplikasi
Infeksi sekunder, gangren ( jarang ), gangguan pertumbuhan dan pubertas, katarak, arteriosklerosis ( sesudah 10 - 15 tahun ), hepatomegali.

Prognosis
Sebelum insulin ditemukan penderita diabetes melitus meninggal setelah 2 tahun, tetapi dengan pengobatan insulin kehidupan diperpanjang, walaupun komplikasi akan timbul sesudah 10 - 20 tahun.

Pengobatan
Tujuan pengobatan ialah mengembalikan penderita kepada kesehatan dan pertumbuhan yang mendekati normal. Hal yang penting ialah pertumbuhan dan perkembangannya dengan memperhatikan kekuatan jasmani yang sebaiknya. Tidak boleh banyak berbeda dengan orang normal.
1. Diet :
Makanan harus adekuat untuk pertumbuhan dan aktifitas normal dan cukup mengenyangkan. Sebaiknya makanan tidak banyak berbeda dengan makanan orang normal dan disesuaikan dengan makanan keluarga. Walaupun sekarang banyak penganut diet bebas. Diet bebas bahwa boleh makan sesukanya pada waktu makan, tetapi tidak boleh berlebihan dan harus menjauhkan diri dari makanan yang manis ( gula - gula dll ) dan makanan yang mengandung karbohidrat.
Prinsip diet ini adalah :
a. Kalori cukup untuk pertumbuhan dan aktifitas
b. Protein tidak kurang dari 2 - 3 gram/kgbb/hari
c. 40 - 50 % dari pada kalori terdiri dari karbohidrat
d. Cukup vitamin dan mineral
e. Seluruh keluarga sedapat - dapatnya ikut dalam diet ini
2. Pengobatan insulin
Sampai sekarang penderita diabetes melitus juvenilis tidak dapat diobati tanpa insulin. Pengobatan oral dengan sulfonureas atau biguanides tidak memuaskan, lagi pula banyak menyebabkan gejala sampingan. Dengan pemberian insulin kita berusaha mencapai kadar gula yang normal atau hampir normal tanpa menyebabkan timbulnya serangan hipoglikemia dan tanpa terlalu membatasi makanan. Glikosuria ringan dalam hal ini boleh diabaikan. Terdapat macam - macam insulin tetapi yang terpenting ialah insulin regular ( R1 ), NPH ( isofan ), lente dan PZI ( tabel I ).
Cara pemberian insulin adalah dimulai dengan insulin regular dalam dosis kecil, misalnya 4 unit, tiga kali sehari sebelum makan. Berangsur - angsur dinaikkan sampai dosis tepat yang dapat diketahui dari pemeriksaan urin dan gula darah.
3. Pediatri sosial.
Orang tua penderita harus dibimbing mengenai penyakit, diet dan pengobatan, misalnya cara menyuntik insulin. Penderita sedapat - dapatnya dalam masyarakat secara normal.

AKUPUNGTUR

Akupungtur merupakan salah satu cabang pengobatan tradisional Tiongkok. Pengetahuan ini mulai dikembangkan dan dikerjakan disana sejak jaman Neolitik ( kira - kira 400 tahun yang lalu ). Sekitar abad VI akupungtur berkembang dan dikenal sampai di Korea, Jepang, Vietnam.Selanjutnya pengetahuan ini dikenal oleh negeri barat pada abad XVIII.
Soulis de Morant merupakan orang yang pertama kali melaporkan tentang akupungtur dalam tahun 1928, kemudian para dokter di Eropa mulai tertarik akan hal ini. Pada waktu ini banyak dokter di Eropa yang mengerjakan akupungtur bersama - sama dengan cara pengobatan kedokteran moderen.
Akupungtur ( akus = jarum, pungtur = tusuk ) merupakan terapi biologis dengan cara menusuk pada beberapa tempat pada kulit ( titik akupungtur ) dengan jarum tertentu. Kadang - kadang ditambah dengan kauterisasi dengan moxa wool yang dibakar ( moxa wool terbuat dari daun Artemisia vulgaris yang sudah dikeringkan dan dihaluskan ). Sesudah jarum ditusukkan sedalam beberapa mililiter, dengan cara tertentu dilakukan manipulasi. Tujuan pengobatan ialah untuk menghilangkan penyebab gangguan dan memulihkan kembali keseimbangan Yang dan yin yang terganggu.
Dalam ilmu ikupungtur, kehidupan dan kesehatan dilihat sebagai hasil dari 2 tenaga Yang dan Yin yang terus - menerus saling mempengaruhi secara timbal balik dan berada dalam keseimbangan. Kesehatan akan terganggu bila terjadi sesuatu hal yang mengakibatkan keseimbangan itu terganggu.
Dengan anamnesis dan pemeriksaan secara inspeksi dan palpasi, dilakukan penilaian akan perubahan keseimbangan Yin dan Yang dalam tubuh penderita, dalam organ yang terganggu dan penyebab terjadinya gangguan keseimbangan tersebut.
Teori meridian ialah teori yang mengemukakan bahwa pada permukaan tubuh terdapat sebuah sistim saluran yang membujur dan melintang, membentuk jala yang rapat, kompleks tapi teratur, yang mengadakan hubungan antara permukaan tubuh dengan organ dalam, antara organ dengan organ, antara jaringan penunjang dengan jaringan lainnya, antara tubuh bagian atas dengan tubuh bagian bawah sehingga membentuk suatu kesatuan yang erat. Oleh karena itu rangsangan pada titik tertentu dalam sistim meridian dapat mempengaruhi keadaan dalam organ dan keadaan tubuh secara keseluruhan.
Dengan teknik penusukan yang sempurna, seorang ahli akupungtur memberikan rangsangan - rangsangan terhadap sisitim neurovegetatif, sistim endokrin dan sistim kardiovaskuler. Setiap penyakit yang timbul berdasarkan gangguan keseimbangan biologis - fungsionil sistim - sistim tersebut dapat disembuhkan, bila keseimbangannya dipulihkan kembali.
Kellner di Wina telah menemukan titik - titik akupungtur yang mempunyai struktur jaringan istimewa yang berlainan dengan bagian kulit yang tidak mempunyai titik akupungtur. Sesuai dengan fakta ini, dalam praktek dapat dibuktikan bahwa bila tusukan jarum tidak tepat pada titik akupungtur, maka pengobatan dengan cara ini tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.
Akupungtur selain digunakan untuk pengobatan secara kasual, juga digunakan untuk terapi simptomatis. Untuk pengobatan simptomatis digunakan titik akupungtur setempat, yaitu yang berada ditempat penyakit, terutama di daerah yang terasa sakit.
Penyakit - penyakit pada anak yang telah dicoba diobati dengan cara akupungtur ialah asma bronkiale, pasca - poliomielitis, enuresis. Dari kepustakaan diperoleh keterangan bahwa akupungtur dapat juga digunakan untuk mengobati anak yang menderita gastroenteritis akut, anoreksia, tetanus neonatorum, tonsilitis akut dan kronis.

Jumat, 05 Desember 2014

Psikiatri Anak ~ Perkembangan Anak

Seorang anak hidup paling aktif di dalam masa perkembangannya. Kepribadian sedang dalam pembentukan dan di dalam stadium perkembangan banyak sekali terjadi perubahan / modifikasi tingkah laku. Sebab itu kita perlu mengetahui ciri tingkah laku normal pada setiap stadium perkembangan anak dan membedakannya dengan gejala patologis. Lingkungan tempat anak tumbuh dan bergantung ialah keluarga dan terutama sekali orang tua, sehingga dalam program pengobatan orang tua selalu harus diikut sertakan.
Agar seorang anak secara psikososial dapat berkembang spontan dan wajar, perlu anak itu memperoleh kasih sayang, pengertian, perasaan aman, disiplin, penghargaan dan penerimaan dari masyarakat sekitarnya. Seseorang anak perlu merasakan kepuasan dalam hubungan dengan orang tua, merasa disayang, dihargai, dan mempunyai kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan dirinya.
Erickson meninjau perkembangan kepribadian dari segi psikososial tertentu yang harus diatasi oleh anak itu agar dapat melewati stadium selanjutnya dengan atau tanpa konflik. Ia membagi stadium perkembangan manusia dalam 8 masa, yaitu :

1. Basic trust vs mistrust ( oral sensory - infacy )
2. Autonomy vs shame and doubt ( muscular anal - early chidhood / toddler )
3. Initiative vs guilt ( locomotor genital - later childhood / pre- school age )
4. Industriousness vs sense of inferiority ( latency school age )
5. Identity formation vs diffusion ( puberty - adolescence )
6. Intimacy vs isolation ( dewasa muda )
7. Procreation / generativity vs self absorption ( dewasa )
8. Ego integrity vs despair ( maturitas )

1. Stadium basic trust vs mistrust infancy.
Dalam masa ini sangat penting adanya mothering process yang penuh kehangatan dan konsisten, karena hal ini akan memberi landasan rasa puas, aman dan kepercayaan kepada orang tua ( dan kelak masyarakat ) dan rasa toleransi terhadap frustasi. Tidak adanya mothering process akan merupakan dasar ketidak - percayaan ( mistrust ) dan insecurity dalam masa selanjutnya.
2. Stadium autonomy vs shame ( early childhood / toddler )
Pada masa ini terdapat 2 hal yang penting yaitu motilitas dan kontrol fungsi tubuh. Anak mulai mengeksplorasi dunia luar dengan aktifitas motorik dan dari pengalaman itu ia akan belajar untuk mengontrol dorongan impulsifnya untuk bertindak, suatu sense of autonomy mulai terbentuk. Konflik akan terjadi bila orang tua menghalangi aktifitas motorik si anak dan menuntut agar anak jadi penurut. Bersamaan dengan itu biasanya timbul masalah toilet training. Bila hal ini dilakukan terlalu dini, waktu anak masih belum sanggup untuk mengatur sfingter karena secara fisiologis memang belum bisa dan anak dihukum atau dipermainkan, maka anak tersebut akan bereaksi dengan 2 cara, yaitu ia akan menjadi takut pada orang tua dan selalu berusaha agar tidak dimarahi dengan menjadi sangat bersih, sangat rapih dan penurut atau sebaliknya ia marah dengan cara menjadi jorok, keras kepala dan tidak dapat dipercaya. Dengan demikian orang tua menanamkan perasaan malu dan ragu - ragu dalam diri anak.
3. Stadium initiative vs guilt ( later childhood / preschool age )
Kemampuan anak lebih besar, ia lebih banyak berhubungan dengan dunia luar termasuk ayah dan saudara - saudaranya. Terbuka kesempatan bagi si anak untuk berhubungan dengan dunia sekitar dan mulai timbul inisiatif untuk menyelesaikan sendiri masalah sederhana yang dihadapinya. Ia mulai berkompetisi dengan saudaranya untuk mendapat kedudukan pertama dimata orang tua, mulai sadar bahwa ia dan saudaranya yang lain harus membagi perhatian orang tua, juga mulai rimbul perasaan cemburu, iri dan perasaan bersalah. Persaingan ini menimbulkan fantasi kebesaran dan juga kemudian rasa takut akan disakiti, diserang oleh orang lain. Pengertian perbedaan seksual mulai ada dan dasar identifikasi seksual mulai terbentuk, demikian pula identifikasi dengan orang tua. Bersamaan dengan hal tersebut, dorongan inisiatif, perasaan cemburu dan marah serta pembentukan ego ( kata hati ) menjadi lebih sempurna. Bila dalam pergolakan ini anak ditekan oleh orang tuanya, maka akan timbul perasaan benci dan perasaan takut akan disakiti. Anak tersebut kemudian akan mengadaptasikan rasa takutnya ( yang dapat menetap hingga dewasa ) dengan menjadi murung, pengunduran diri dan akhirnya internalisasi dari larangan untuk ekspresi perasaan marah.
4. Stadium industry vs inferiority ( school age )
Sosialisasi anak lebih luas lagi dengan orang diluar keluarganya. Pengaruh mereka memungkinkan kesempatan identifikasi lagi yang dapat menghambat, mengubah atau menambah tingkah laku yang telah terbentuk sebelumnya, juga kesempatan memperoleh keterampilan makin luas. Keinginan anak untuk berhasil dalam belajar, berbuat dan berkarya sangat besar, tetapi bila ia gagal maka akan terbentuk perasaan inferior dan inadekuat. Identifikasi lebih banyak pada orang tua dengan seks yang sama, jadi perlu sekali hubungan erat dengan mereka atau substitut ( seks yang sama ) agar si anak lebih menetapkan maskulinitas atau feminutas. Dalam masa ini juga cita - cita ( ideals ) mulai terbentuk.
5. Stadium identity vs diffusion ( adolescense )
Didalam masa ini termasuk masa pubertas, saat maturasi alat kelamin terjadi. Secara emosional banyak terjadi variasi besar antara alam perasaan, pandangan, dan hubungan.Dependensi pada orang tua dan keinginan untuk kembali ( tidak meninggalkan ) kepada masa anak, terbentur kepada keinginan dan kemampuan untuk menjadi idependent sehingga menimbulkan konflik. Dorongan instingtual yang makin besar, harus disesuaikan dengan larangan keluarga dan masyarakat. Ia sangat prihatin terhadap penilaian dirinya kleh orang lain dan bagaimana ia melihat dirinya sendiri. Ia sedang dalam masa pembentukan suatu identitas diri, yang identitas biologis dan psikologisnya harus disesuaikan dengan pekerjaan, keluarga dan peranan sosial.

Kamis, 04 Desember 2014

Etiologi perkembangan kelainan tingkah laku

Seringkali dipertanyakan mengapa di dalam suatu keluarga yang biasa saja, terdapat anak yang manis dan baik, tetapi ada juga yang nakal, bandel, sukar diatur bahkan sering menimbulkan kesulitan. Hal ini berkaitan dengan konsep risiko ( concept of risk ) yang menerangkan bahwa disatu pihak memang ada prakondisi yang memungkinkan terjadinya kelainan tingkah laku ( misalnya derajat mudah dikenalnya sesuatu dan predisposisi ) dan dipihak lain adanya stres, trauma, pengaruh buruk dalam lingkungan. Oleh May, kedua unsur konsep risiko ini diterangkan melalui contoh berupa 3 boneka, sebagai prakondisinya ialah satu dari kaca, satu dari seluloid dan satu lagi dari baja. Ketiga boneka tersebut dipukul dengan palu yang berkekuatan sama ( sebagai pengaruh lingkungan ). Akibatnya satu menjadi pecah,  satu hanya tergorea dan yang satu lagi justru menimbulkan suara nyaring. Kedua unsur ini, yaitu unsur individu dan  unsur lingkungan merupakan dua hal yang paling mempengaruhi untuk terjadinya kelainan tingkah laku.

Ada 5 macam risiko yang dapat merupakan penyebab kelainan tingkah laku yaitu :
1. Faktor turunan ( heredity )
2. Faktor bawaan ( constitutions )
3. Lingkungan ( environments )
4. Situasi dan pengalaman ( situations and experiences )
5. Segi perkembangan ( points in development )

Risiko tinggi dalam hereditas ( turunan )
Dalam hal ini dimaksudkan semua unsur yang berhubungan dengan faktor genetik yang memungkinkan terjadinya kelainan tingkah laku. Anthony ( 1968 ) mendasarkan penelitiannya pada anak - anak yang mempunyai salah satu atau kedua orang tuanya skizofrenia ( kurang waras ) dan ternyata 18% dari sample menjadi seperti orang tua mereka. Anak - anak ini pada masa anak - anaknya menunjukkan tingkah laku menarik diri, curiga dan tiba - tiba regresi. Dengan demikian berarti kepekaan untuk bertingkah laku lain dari yang lain telah ditentukan secara genetis, sedangkan faktor lingkungan hanya tinggal mencetuskannya saja.

Risiko tinggi faktor bawaan ( konstitusional )
Setiap orang dilahirkan dengan konstitusi ( faktor bawaan ) yang unik. Konstitusi ini menyangkut tanda - tanda fisis dan temperamen. Tanda fisis misalnya hidung mancung, mata jeli, raut muka cantik / cakap atau keadaan yang sebaliknya. Hal ini dimiliki sejak lahir dan dapat mempengaruhi perkembangan anak, misalnya dalam bentuk kualitas hubungan anak dengan orang tua, teman - teman dan sebagainya. Lingkungan cenderung memberikan respons positif terhadap anak - anak yang menarik dari pada terhadap anak yang mempunyai kelainan. Dalam hal temperamen ( gaya tingkah laku seseorang ), Thomas, Chese, Birch ( 1968 ) mengemukakan adanya pola gaa tingkah laku yang sifatnya individual. Ada beberapa temperamen yang tidak langsung menyebabkan kelainan, tetapi merupakan prediktor dari timbulnya kelainan tingkah laku ( misalnya ketidak- teraturan, ketidak-sesuaian / non adaptability, respons menarik diri, mood yang negatif dalam intensitas yang tinggi ). Untuk mengetahui apakah temperamen mempunyai andil dalam kelainan tingkah-laku seseorang, diperlukan suatu penelitian tentang hubungan  temperamen tertentu yang dimiliki anak tersebut dengan lingkungannya. Misalnya seorang anak yang memiliki tingkah aktifitas yang tinggi, tentu akan senang untuk aktif, bergerak ke sana kemari. Tetapi bila ia dihadapkan kepada lingkungan yang membatasinya dan menekankan keteraturan, maka akan timbul keluhan dari lingkungan atau orang  tua bahwa anak tersebut merupakan anak yang tidak rapih, tidak tekun, keras kepala dan sebagainya. Ketidak-senangan yang timbul pada kedua pihak akan memudahkan tercetusnya kelainan tingkah-laku.

Risiko tinggi faktor Lingkungan
Dalam hal ini dimaksudkan hal - hal dalam lingkungan yang dianggap mengandung risiko tinggi untuk terjadinya kelainan tingkah laku, yaitu :
1. Lingkungan nonfamilial ( tidak mengandung suasana kekeluargaan ).
Penelitian Spitz membuktikan bahwa anak - anak yang tinggal di suatu lembaga akan mengalami deprivasi,yakni disamping mengalami keadaan terpisahkan dari orang tua, kemiskinan dan malnutrisi, juga menderita kekurangan rangsangan sensoris, isolasi sosial dan budaya. Deprivasi pada masa dini merupakan kunci terjadinya kelainan tingkah laku. Bowlby ( 1951 ) menyatakan bahwa untuk mendapat kesejahteraan jiwa, seseorang hendaknya mendapatkan kehangatan, kemesraan dan hubungan yang erat dari tokoh ibu ( pengganti ibu ) pada masa awal dari kehidupannya.
2. Kelainan hubungan antara orang tua dengan anak
Sikap umum dari orang tua terhadap anak ialah menerima atau menolak. Bila terdapat sikap menerima yang berlebihan, maka akan timbul sindrom overproteksi. Orang tua yang menerima anak tetapi dengan cara menguasainya ( Otokratik ), akan memupuk ketergantungan yang berlebihan, pasif, hubungan yang buruk dengan teman sebaya. Sebaliknya bila sikap menerima dilakukan dengan cara memberi kebebasan penuh pada anak, maka akan terjadi anak dengan Indulged type, yaitu anak yang tidak patuh, banyak menuntut, ingin selalu menguasai dan sebagainya. Dengan sikap menolak, maka kontak dan perhatian pada anak sangat kurang atau bahkan tidak ada, sehingga anak seperti ini tidak pernah mendapatkan pengawasan dan mudah menjadi nakal, agresif dan bertingkah laku antisosial.
3. Kelainan dalam keluarga ( family pathology )
Orang tua yang secara psikologis tidak berhasil untuk berkembang dapat menyebabkan gangguan / kekacauan dalam Vectoral relationship. Pada anak akan didapatkan penyesuaian yang salah akibat orang tua yang terlalu mengabdikan diri pada anak sehingga melupakan pengembangan dirinya sebagai orang tua atau sebaliknya terlalu banyak menuntut dari anak. Demikian pula karena di dalam keluarga terjadi penerusan nilai - nilai norma - budaya, maka suatu kelainan tingkah laku dapat saja dijangkitkan melalui hubungan orang tua dengan anak.
4. Orang tua yang sakit
Anak sangat peka terhadap suasana yang diakibatkan oleh orang tua yang terganggu atau mengganggunya.

Risiko tinggi dalam situasi dan pengalaman
Contoh umum mengenai situasi yang dapat mempunyai nilai risiko untuj terjadinya kelainan tingkah laku ialah keadaan perpisahan ( separation ). Gregory dalam penelitiannya menemukan banyak delikuensi pada anak yang kehilangan ayahnya, sedangkan Rutter menemukan bahwa gangguan tingkah laku biasanya belum muncul dalam 5 tahun setelah kematian orang tua. Situasi dan pengalaman yang mempunyai risiko tinggi lainnya adalah perawatan di rumah sakit, penyakit dan berbagai trauma psikis.

Risiko tinggi dalam perkembangan
Di dalam psikologi perkembangan dikenal adanya periode kritis ( critical periodee dan critical stages ) yaitu saat di mana masa depan dari pola tingkah laku anak tersebut ditentukan.
Adanya masa perkembangan yang panjang memungkinkan manusia memperkaya diri, tetapi kadang - kadang terjadi interupsi yang menimbulkan ketidak seimbangan dan maladaptasi. Pada individu tertentu yang peka terhadap interupsi ini dapat terjadi keadaan yang berakibat lanjut menjadi kelainan psikiatris.
Ada masa - masa tertentu dimana anak banyak dibawa ke klinik bimbingan anak berkaitan dengan perubahan pertumbuhan fisis, cara berfikir dan proses memasuki suatu sistim pendidikan baru.
Kesimpulan yang tegas mengenai sebab dari suatu kelainan tingkah laku tidaklah mudah. Setiap kelainan tingkah laku dapat di cari sebabnya dari dalam diri anak maupun dari dalam lingkungannya. Adanya risiko tinggi dari kedua unsur tersebut, memudahkan timbulnya kelainan tingkah laku. Suatu kelainan tingkah laku hendaknya ditinjau dari sudut interaksi antara anak dengan lingkungannya. Anak pada taraf perkembangan yang berbeda dengan jenis masalah yang berbeda, memerlukan pengertian dan penanganan yang khas dan sebagai orang tua hendaknya tidak hanya memberikan label kelainan tingkah laku secara umum untuk semua pada segala tahap perkembangannya.
Dengan mengenal 5 hal yang dapat mengandung risiko tinggi untuk terjadinya kelainan tingkah laku, diharapkan pengertian yang luas akan masalah yang dihadapi anak maupun lingkungannya dan mengusahakan agar anak dan lingkungannya berada dalam pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.

Lirik To Love You More - Celine Dion

Take me back into the arms I love
Need me like you did before
Touch me once again
And remember when
There was no one that you wanted more

Don't go you know you'll break my heart
She won't love you like I will
I'm the one who'll stay
When she walks away
And you know I'll be standing here still

Chorus :
I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one to love you more

See me as if you never knew
Hold me so you can't let go

Just believe in me
I will make you see
All the things that your heart needs to know
Back to Chorus

And some way all the love that we
Had can be saved
Whatever it takes we'll find a way

Believe me
I will make you see
All the things that your heart needs
To know
Back to Chorus

Rabu, 03 Desember 2014

Sebab - sebab kelainan tingkah laku anak

Adalah suatu harapan dan cita - cita dari para orang tua, guru, maupun masyarakat pad umumnya untuk memiliki anak - anak yang sehat jasmani dan rohani. Betapa tenang dan tentramnya hati bila melihat anak - anak bermain riang gembira, pandai, tekun dalam belajar dan bekerja, bebas dan lincah dalam mengutarakan buah pikiran dan kreativitasnya, banyak teman dan dapat menyesuaikan diri dengan baik dalam berbagai lingkungan dimana ia berada.
Harapan ini tentu menyangkut pertumbuhan dan perkembangan yang paling optimal dari segi fisis, emosi, mental, dan sosial setiap anak. Tetapi suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya sejumlah anak yang memperlihatkan perilaku sumbang, bertingkah laku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku, baik norma budaya, norma umur, norma kecapakan / keterampilan maupun norma sosial yang berlaku dalam lingkungan di mana anak berada. Tingkah laku mereka mengalami gangguan dan kelainan ( disorder ), yang biasanya lebih dirasakan oleh lingkungannya dari pada oleh anak sendiri.

Kelainan tingkah laku ( Behavior disorder )
Suatu kelainan tingkah laku tidak hanya didiagnosis berdasarkan pada tampaknya satu jenis / bentuk tingkah laku yang spesifik, tetapi berdasarkan gejala - gejala jamak ( multiple symptomatology ) yang sifatnya terus - menerus ( persistent ) dan menyebabkan orang yang mengalami kelainan secara sosial lumpuh.
Pada anak - anak, kelainan tingkah laku biasanya berkaitan dengan tahap perkembangan dan situasi tertentu, misalnya anak berumur 5 tahun masih suka mengompol bila dirumah sendiri, tetapi bila menginap di tempat lain ia tidak mengompol; anak usia Sekolah Dasar di sekolah sangat agresif  dan mengganggu, sedangkan di rumah sama sekali tidak demikian atau sebaliknya. Dari kedua contoh diatas nyata bahwa tidak mudah untuk menentukan apakah sesuatu kelainan tingkah laku yang diperlihatkan anak merupakan suatu penyimpangan.
Buckle dan Lebovici ( 1960 ) menekankan bahwa semua anak pada suatu waktu tertentu akan memperlihatkan tanda - tanda gangguan tingkah laku. Kanner ( 1960 ) menyatakan bahwa kelainan tingkah laku itu lebih berkaitan dengan ambang ketergangguan ( annoyance threshold ) dari lingkungan dan bukan pada kualitas tingkah laku itu sendiri. Ditambahkannya pula bahwa tidak ada kriteria yang mutlak tentang normalcy, penilaian tentang terganggu tidaknya suatu tingkah laku berhubungan erat dengan sikap dari agent yang menilai tingkah laku itu.

Anthony ( 1967 ) menyatakan ada 2 tipe kelainan tingkah laku, yaitu :
1. Phase spesific, yaitu suatu kelainan yang terjadi hanya pada satu tahap tertentu dari perkembangan. Misalnya anak membangkang pada fase umur sombong (trotz - alter ). Pada kelainan jenis ini biasanya keadaan lingkungan relatif baik dan tidak ada kelainan konstitusi pada diri anak. Mereka yang mengalami kelainan jenis ini pada umumnya dapat melewati masa - masa sukar tersebut.
2. Diffuse variety, yaitu suatu kelainan tingkah laku yang muncul / ada pada setiap tahap perkembangan. Disini biasanya terhadap lingkungan yang cenderung patologis dan konstitusi anak memang peka untuk terjadinya kelainan ini.

Hinsie dan Campbell ( 1960 ) memandang kelainan tingkah laku sebagai reaksi terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan dan kelainan ini dapat tampil sebagai masalah dalam perkembangan kepribadian ( misalnya terpupuknya sifat - sifat yang tidak diinginkan ), sebagai gangguan perbuatan ( termasuk di sini kecenderungan perbuatan anti sosial ), sebagai reaksi nerotis dan sebagai masalah sekolah.
Ross ( 1974 ) menghubungkan kelainan tingkah laku ini dengan penyimpangan tingkah laku dari norma sosial yang berlaku, tingkah laku mana dinilai oleh orang yang lebih tua ( dari anak ) berdasarkan frekuensi dan intensitasnya.
Kelainan ini dapat merupakan tingkah laku yang kurang ( defficient behavior ) atau merupakan tingkah laku yang berlebihan ( excess behavior ).
Dari pendapat para ahli di atas jelaslah bahwa suatu kelainan harus dipandang dari sudut interaksi antara anak dengan lingkungannya atau dengan perkataan lain adanya kelainan tingkah laku merupakan tanda adanya masalah dalam interaksi ini.

Klinik Bimbingan Anak ( Child Guidance Clinic ), Persoalan dan Pengobatannya

1. Fungsi Klinik Bimbingan Anak
Membantu anak supaya dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan, baik dari segi emosi maupun dari segi hubungan sosial, agar anak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya ke arah maturitas yang harmonis. Perlu dilakukan pemeriksaan psikologis dan kemudian ditentukan langkah - langkah yang diambil, baik terhadap anak maupun terhadap lingkungan hidupnya.

II. Persoalan pada anak

1. Gangguan emosi, misalnya :
a. Agresi ( memukul adik, merusak barang )
b. Temper tantrums ( membenturkan kepala, berguling - guling di lantai )
c. Gagap ( stuttering )
d. Ngompol ( enuresis )

2. Gangguan belajar / sekolah, misalnya :
a. Tidak dapat mengikuti pendidikan yang biasa ( retardasi mental )
b. Prestasi tiba - tiba menurun
c. Penyesuaian antara kemampuan dengan sekolah kejuruan
d. Gangguan khusus yang berhubungan dengan prestasi ( reading disability, partial deafness )

3. Gangguan sosial, misalnya :
a. Mencuri
b. Melarikan diri
c. Membohongi
d. Agresi ( berkelahi, sadistis )

4. Gangguan khusus ( Organik dan kebiasaan ), misalnya :
a. Epilepsi
b. Cerebral palsy
c. Mengenyot jari ( thumb sucking )
d. Anoreksia

III. Dikirim oleh :
1. Dokter ( dokter anak, dokter ahli saraf, psikiater, ahli THT )
2. Sekolah / guru
3. Instansi - instansi yang berhubungan dengan anak ( Panti Asuhan, Dinas Sosial, Bispa - Direktorat Pemasyarakatan, Rumah Sakit )
4. Ahli pendidikan
5. Pekerja sosial
6. Orang tua atau anak datang sendiri

IV. Pemeriksaan psikologi
1. Anamnesis
Ditanyakan mengenai perkembangan anak yang meliputi aspek - aspek fisik, mental, emosi, sosial dan gangguan yang mungkin timbul dalam perkembangannya. Hubungan antara perkembangan anak dengan faktor - faktor yang mempengaruhinya seperti misalnya orang tua, saudara - saudara, lingkungan rumah, lingkungan pergaulan dll.
2. Observasi
Sebagai salah satu cara penilaian kepribadian yang meliputi penampilan fisis, sikap dan tingkah laku dalam pemeriksaan, kebiasaan tertentu yang diperlihatkan dan reaksi terhadap lingkungan.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap anak yang sudah cukup besar untuk mengetahui lebih mendalam mengenai  kehidupan emosi, sikap dan pendapatnya mengenai orang tua dan saudara - saudaranya. Wawancara juga digunakan sebagai informal test untuk mengetahui fungsi inteleknya yaitu dengan mengajukan pertanyaan - pertanyaan, seperti misalnya berapa kakinya dsb.
4. Uji psikologis
Pemeriksaan ini umumnya di golongkan menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Uji inteligensia
Untuk mengetahui beberapa segi dari fungsi intelek ( misalnya daya ingatan, konsentrasi ) baik secara khusus maupun secara umum yang dinyatakan dengan Intelegence Quotient ( IQ ).
Contoh : Wechesrler Intelegence Scale for Children ( WISC )
b. Uji kepribadian
Banyak dipergunakan dengan metode proyeksi, artinya anak memproyeksi ciri - ciri karakterologiknya ( misalnya emosi, cara penyesuaian diri ) pada suatu screen.
Contoh : Children's Apperception Test ( CAT )

V. Pengobatan yang diberikan
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diperoleh, selanjutnya direncanakan tindakan dalam rangka bantuan terhadap anak dan keluarganya.
Bantuan yang diberikan dapat berupa :
1. Langsung
Terhadap anak diberikan terapi secara langsung seperti misalnya :
a. Psikoterapi
b. Play therapy
c. Behaviour therapy
2. Tidak langsung
Terapi dilakukan terhadap orang tua, agar mereka dapat mengubah cara bersikap dan bertindak terhadap anaknya. Perubahan cara mendidik juga dapat diharapkan dari guru. Terhadap saudara - saudara, pengasuh atau orang lain yang berhubungan dengan anak, dapat pula diberikan petunjuk agar memperlihatkan sikap dan perlakuan setepat - tepatnya terhadap anak.
3. Penyaluran
Oleh karena keadaan tertentu, seringkali terpaksa dibutuhkan pertolongan sepenuhnya dari ahli atau diberikan secara bekerjasama ( Interdisciplinair ).
a. Ahli lain, misalnya psikiater, dokter anak, neurolog, pedagog dll.
b. Lembaga / instansi yang berhubungan dengan anak, misalnya Sekolah Pendidikan Luar Biasa ( SPLB ), dengan berbagai golongannya, sekolah lain sesuai dengan bakat anak ( misal Sekolah Teknik ), Dinas sosial, Pramuka, Perkumpulan kesenian, Olah raga dsb.